Minggu, 17 November 2013

Pintu Air Wilalung 105 Tahun Melindungi Kudus



Satu lagi icon yang belum banyak dikenal masyarakat luar Kudus yang sebenarnya memegang peranan vital bagi kehidupan dan keamanan Kudus yap Pintu Air Wilalung atau sering disebut Kedung Wilalung, Bendung Wilalung, dan Pintu Banjir Wilalung. Bangunan unik nan bernilai sejarah tinggi jaman Belanda ini sampai sekarang masih berdiri kokoh dan masih berfungsi baik selama lebih dari 100 tahun. Kalau anda melewati Wilayah Undaan jangan lupa mampir untuk melihat-lihat atau sekedar berfoto di tempat ini, berikut sejarah berdirinya Pintu Air Wilalung Undaan Kudus.
Pintu Air Wilalung adalah Bangunan Pembagi Air Banjir berupa bendung gerak yang didirikan pada percabangan Sungai Serang di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Propinsi Jawa Tengah. Bangunan tersebut membagi Sungai Serang menjadi Sungai Juwana dan Sungai Wulan. Pintu Banjir Wilalung dibangun pada tahun 1908 - 1916 oleh pemerintah Hindia Belanda, dengan tujuan untuk melindungi daerah Demak, Grobogan dan sekitarnya beserta daerah irigasinya dari bencana banjir yang terjadi karena meluapnya aliran Sungai Lusi dan Sungai Serang.  Sebelumnya pada tahun 1892, pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah saluran yang sekarang disebut Sungai Wulan. Sungai Wulan ini memperpendek jarak Sungai Serang ke laut. Cara ini hanya dapat mengatasi masalah dalam jangka pendek, karena tingginya proses sedimentasi di sepanjang sungai sehingga lambat laun kapasitas sungai pun berkurang.
Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, saat itu pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membangun Pintu Banjir Wilalung guna mengatur dan mengalihkan atau membelokkan luapan banjir sesuai dengan daya tampung Sungai Wulan dan Sungai Juwana.
Pintu Banjir Wilalung selesai dibangun pada tahun 1916 dan mulai dioperasikan pada tahun 1918. Bangunan tersebut dibangun dengan dua pintu dibagian Sungai Wulan dan sembilan pintu pada bagian Sungai Juwana. Rencana debit aliran Pintu Banjir Wilalung adalah 1.350 m3/det di mana debit sebesar itu akan dilewatkan pada dua pintu di Sungai Wulan sebesar 350 m3/det dan Sembilan pintu pada Sungai Juwana sebesar 1.000 m3/det.

Kondisi Pintu Banjir Wilalung saat ini pada pintu air yang mengatur air ke Sungai Juwana hanya 4 buah pintu yang dapat dioperasionalkan dengan baik, sedangkan yang 5 buah pintu rusak. Diperkirakan apabila 2 buah pintu dibuka akan dapat mengalirkan air ke Sungai Juwana sebesar 100,98 m3/det. Untuk mengurangi beban banjir pada Pintu Banjir Wilalung telah dibangun Flood Way pada tahun 1995 yang mengalirkan air ke Sungai Wulan sebesar 400 m3/det. ( Sumber : Balai PSDA Seluna)
Rusaknya pintu air tentu menjadi salah satu persoalan di Pintu Banjir Wilalung yang menghambat aliran air pada bendung terutama ketika terjadi banjir. Dan hal ini terjadi ketika banjir pada bulan Desember tahun 2007 yang menyebabkan meluapnya Sungai Serang dan membanjiri daerah Grobogan, Kudus dan sekitarnya. Sehingga diperlukan adanya perbaikan agar tidak ada kerusakan berkelanjutan, mengingat betapa vitalnya Bendung Wilalung untuk mengalirkan aliran dan melindungi daerah sekitarnya jika banjir terjadi. Persoalan lain yang dihadapi Pintu Banjir Wilalung adalah potensi sedimentasi yang cukup tinggi. Hal ini terjadi akibat erosi dan longsor di badan saluran. Di samping memang konsentrasi angkutan bahan sedimen pada Sungai Serang yang tinggi. Sehingga Pintu Banjir Wilalung tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Dikutip dari: EVALUASI PINTU BANJIR WILALUNG KECAMATAN UNDAAN KABUPATEN KUDUS (UNDIP 2008)


Kamis, 14 November 2013

Orang Kudus Pelit? Ah itu Cuma Mitos!


Orang Kudus mencuci Keris (1943 KITLV)

Mitos adalah Mitos (bahasa Yunani: μῦθοςmythos) atau mite (bahasa Belanda: mythe) adalah cerita prosa rakyat yang menceritakan kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan makhluk di dalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Dalam pengertian yang lebih luas, mitos dapat mengacu kepada cerita tradisional. Pada umumnya mitos menceritakan terjadinya alam semesta, dunia dan para makhluk penghuninya, bentuk topografi, kisah para makhluk supranatural, dan sebagainya. Mitos dapat timbul sebagai catatan peristiwa sejarah yang terlalu dilebih-lebihkan, sebagai alegori atau personifikasi bagi fenomena alam, atau sebagai suatu penjelasan tentang ritual. Mereka disebarkan untuk menyampaikan pengalaman religius atau ideal, untuk membentuk model sifat-sifat tertentu, dan sebagai bahan ajaran dalam suatu komunitas.
Mitos oleh orang Indonesia dianggap sebagai suatu kebenaran namun di jaman modern saat ini mulai banyak orang yang percaya pada fakta dan mulai meninggalkan tahayul. Banyak sekali mitos yang berkembang di kalangan masyarakat, terutama masyarakat Jawa seperti mitos tentang Nyi Roro Kidul penguasa pantai selatan atau Dewi Lanjar penguasa pantai utara Jawa, atau jika kita telisik lebih dalam lagi pada mitos lokal masyarakat Rembang seperti mitos tentang penghuni Pulai Marongan yaitu kera ekor panjang yang merupakan tumbal bagi orang yang akan mencari Pesugihan yang dulunya adalah saudara mereka yang menjelma menjadi kera karena dijadikan tumbal, mitos tentang kapal dampo awang yang hancur sehingga menyebar kemanana-mana, mitos tentang Gunung Bugel yang merupakan kapal dampo awang yang tertelungkup yang konon didalamnya ada berbagai harta karun, dsb, sedangkan mitos yang paling controversial yang pernah saya dengar saat saya masih kecil adalah mitos tentang orang kudus yang pelit? Waduh, sepertinya ini ucapan Rasis! Namun benarkah demikian??
Saya masih ingat betul saat orang para saudara dan tetangga mengatakan kalau menikah jangan sampai mendapat orang Kudus karena mereka “Medit”, aku yang masih kecil seketika benar-benar percaya dan sangat takut kalau nantinya menjadi orang Kudus. Mereka bercerita awal mula orang Kudus pelit adalah saat Sunan Muria ketika menghadiri suatu hajatan beliau selalu membawa nasi yang telah di siapkan untuk dibawa, dan saat disuguhi minuman selalu dihabiskan tidak bersisa dari gelasnya, cerita ini terus menerus diturunkan pada generasi Rembang walau saat ini sudah mulai sangat jarang orang membahas ini.
Stigma buruk yang mengundang perpecahan inilah yang sudah selayaknya dikubur dalam-dalam karena sangat tidak masuk akal dan hanya mitos belaka, puluhan tahun berlalu dari saat aku sering mendengar mitos itu kini aku sangat sering berkunjung Ke Kudus karena memang kebetulan kakak ipar saya adalah orang Kudus serta kakak ke dua saya juga bekerja dan menetap di Kudus saya buktikan ternyata semua stigma negatif itu gugur entah dari siapa stigma itu dimulai, saya sangat mengagumi Kudus dan budayanya semuakotanya aman, nyaman, indah damai orangnya ramah, sopan dan tentu tidak pelit. Well sudah seharusnya mitos tentang orang kudus pelit harus segera anda hapus dari memori anda. J Salam Damai. Wassalam.