Jumat, 16 November 2012

Sejarah Hari Jadi Kabupaten Rembang (27 Juli 1741)




Peta Kuno Rembang Tahun 1877



Munculnya pemerintahan Rembang secara tidak langsung erat kaitannya dengan pembrontakan Cina atau perang pacina yang terjadi pada pemerintahan Paku Buwana II (1726-1749) di Kerajaan Mataram  Kartasura.
Pada tahun 1740 terjadi “pembrontakan” orang-orang Cina yang meluas hampir ke selulruh Jawa. Pembrontakan itu pada awalnya hanya berkecambuk di Jakarta (Batavia) sebagai akibat tindakan sewenang-wenang dari orang-orang Belanda (VOC) terhadap orang-orang Cina yang tinggal di Batavia. Pada waktu itu Jendral kompeni yaitu Valkenier mengeluarkan peraturan yang mengharuskan orang-orang Cina atau Tiong Hwa untuk memiliki surat ijin tinggal (Verblijf verguning di Hindia Belanda, khususnya di Batavia yang pada waktu itu memang banyak orang-orang Cina yang tinggal di kota itu. Tentu saja hal itu sangat mengejutkan bagi orang-orang Cina yang tinggal lama di Batavia tanpa memiliki surat ijin tinggal. Apalagi sejak semula kedatangan mereka ke Batavia sebagai perantau, bahkan sebagian besar dari mereka memang didatangkan oleh Belanda untuk bekerja di perkebunan-perkebunan atau perusahaan/perdagangan VOC, tidak pernah melalui atau dikenakan persyaratan memiliki ijin tinggal. Oleh karena itu bisa dimengerti peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jendral Verkenier itu oleh orang-orang Cina dianggap sebagai mengada-ada bahkan suatu penghianatan bagi mereka. Lebih menyakitkan lagi bahkan surat ijin tinggal itu harus dibeli dengan harga cukup mahal, dan bagi siapa saja (orang-orang Cina) yang tidak mampu membeli akan dipulangkan ke Tiongkok dan sebagian lagi dikirim ke Sailan untuk dipekerjakan pada perkembangan-perkebunan Belanda di negeri itu.
Pad waktu itu “pembrontakan Cina” sudah mulai merebet ke Jawa Tengah, pada mulainya Paku Buwana II memberikan dukungan sepenuhnya kepada pembrontakan tersebut yang di pimpin oleh Tai Van Sen. Bahkan pada tahun 1741 benteng kompeni yang ada di kartasura diserang para pembrontak dn dalam waktu yang singkat dapat diduduki. Bersama dengan para prajurit Kartasura para pembrontak juga berhasil membunuh komandan benteng kompeni Vilsen dan beberapa opsir lainnya, sedangkan prajurit-prajurit kompeni lainnya yang bersedia masuk Islam diberi pengampunan. Setelah peristiwa itu Paku Buwono II dengan semboyannya Perang Suci memerintahkan kepada para bupati di seluruh wilayah Mataram untuk bergabung dengan pembrontakan Cina guna menghancurkan kompeni. Oleh karena itulah pembrontak gabungan Cina dan Jawa ini dengan cepat bisa meluas ke seluruh Jawa.
Khususnya Rembang yang saat itu Bupatinya adalah Ngabehi Anggadjaja, perlawanan terhadap kompeni yang dilandasi oleh Perang Suci itu betul-betul meletus setelah datangnya gerombolan pemberontak Cina dari Batavia dibawah pimpinan Pajang. Pada waktu itu kota Rembang di kepung selama 1 bulan, dan garnisun kompeni yang ada di kota itu tidak mampu menghadapi pembrontak. Bahkan ada perintah dari semarang untuk melarikan diri, pasukan kompeni itu tetap tidak mampu menerobos kepungan pembrontak. Ahirnya garnisium kompeni dapat dihancurkan dan residen Rembang saat itu ikut terbunuh. Peristiwa penghancuran Garnisun Kompeni di Rembang ini mulai terjadi pada 27 Juli 1741
Dalam pengepungan kota Rembang oleh pembrontak selama 1 bulan, garnisun kompeni di kota ini nampaknya harus berjuang sendiri menghadapi pembrontak. Artinya tidak ada bantuan dari orang-orang pribumi setempat atau dari Bupati Rembang pada waktu itu yaitu Ngabei Anggajaya. Sebagai salah satu bupati pesisiran, Anggajaya pasti mempunyai prajurit yang besar, dan apabila mau juga pasti mampu menumpas segerombolan Cina dibawah pimpinan Kerajaan Pajang. Dengan demikian dapat pula dipastikan bahwa Bupati Rembang bersama prajuritnya memang bergabung dengan orang-orang Cina untuk menghancurkan garnisun kompeni yang bersenjata lengkap. Dengan demikian jatuhnya Kota Rembang pada tanggal 27 Juli 1741 merupakan peristiwa heroik dan awal pergerakan rakyat Rembang melawan kompeni. Tanggal inilah yang sekarang digunakan sebagai hari jadi Kota Rembang.