Senin, 17 September 2012

Tradisi Unik Pengantin di Desa Loram Kulon Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus


...”Sepasang Pengantin yang salah satu atau keduanya merupakan warga desa Loram, wajib mengelilingi gapura Masjid sebanyak 3 kali sambil membaca “Allahumma barik lana bil khoir” (Ya Allah berkahilah kami dengan kebaikan).
Gapura Masjid Wali Loram Kulon, Kudus Tempat Tradisi Pengantin mengelilingi Gapura Masjid
Seperti biasa setiap saya melakukan perjalanan ke pelosok Rembang dan Kudus tidak lengkap rasanya tanpa mencari-cari sesuatu unik dari ke dua  daerah ini meski kadang itu membuat bahan guyonan siapapun yang bersamaku saat perjalanan itu kata mereka aku sebagai orang langka yang selalu mencari hal-hal yang aneh tapi ya memang beginilah sebagai mahasiswa Sejarah hehe. Kebetulan hari Sabtu (15/09/12) saya dan adik saya ke Kudus, yap sejenak mampir ke rumah teman saya Hilya Antami dan Endah Setyoningsih (teman satu jurusan Sejarah) di desa Loram Kulon kabupaten Kudus. Mereka agaknya membuat saya bertanya-tanya tentang tradisi unik yang ada di desa mereka yaitu tradisi pengantin mengelilingi gapura kuno masjid desa Loram mereka menyebutnya sebagai Masjid Wali atau Masjid At-Taqwa yang meniliki gapura kuno abad 16 berbentuk mirip gapura Pura tempat suci agama Hindu di Bali. Kebetulan juga pada hari ini saat saya ingin melihat masjid wali ini sedang ada prosesi pengantin mengelilingi gapura masjid, sebuah moment yang luar biasa bagiku, namun sayang saya tidak berbekal camera saku saking terkesimanya dengan prosesi itu sampai-sampai saya lupa kalau kamera HP pun juga bisa digunakan untuk mendokumentasikan. Nah sepasang pengantin sudah selesai melakukan prosesi Ngubengi gapuro  (mengelilingi gapura) eh lha saya baru nyadar kalau ada kamera HP tapi ya sudahlah cukup memotret gapura ini tanpa ada pengantinnya L. Sembari melihat prosesi itu ada bapak-bapak paruh baya mendekati saya dan menerangkan sedikit tentang sejarah masjid dan asal usul prosesi itu dengan sangat ramahnya, nah berikut penjelasan sang bapak yang saya lupa menanyakan namanya hehe
Sekilas Tentang Sejarah Berdirinya Masjid Wali Loram Kulon, Kudus
Pintu tengah Gapura Masjid Wali yang dibagun abad 16 M
Masjid At-taqwa atau Masjid Wali menurut kisahnya didirikan oleh seorang  muslim dari Campa Tjie Wie Guam, ia adalah seorang pegembara yang singgah di Jepara yang saat itu sedang dipimpin oleh Ratu Kalinyamat istri Sultan Hadiri yang merupakan menantu Sultan Trenggono raja Demak. Jepara saat itu masih di bawah wilayah kerajaan Demak. Masjid Wali didirikan sekitar tahun 1596-1597 bertepatan dengan saat-saat masa peralihan Hindu-Budha ke Islam. Kudus yang ketika itu adalah wilayah agamis Hindu sulit meninggalkan begitu saja tradisi Hindu yang bahkan sisanya masih sampai sekarang seperti dilarang menyembelih sapi tapi diganti kerbau serta adanya menara kudus (menara Adzan yang menyerupai Mehru bangunan yang biasanya ada di Pura agama Hindu) di komplek masjid Menara dan makam Sunan Kudus. Begitu pula saat Tjie Wie Guam menjadi orang yang sangat dekat dengan Sultan Hadiri, ada yang bilang juga Tjie wie Guam adalah suami Roro Prodobinabar putri Sunan Kudus ia ditugaskan untuk membuat masjid  dengan menambahkan ornamen-ornamen Hindu yaitu pada gapura masuk masjid yang bertujuan agar warga sekitar tertarik dan mau masuk ajaran Islam.
Gapura ini terbuat dari batu bata merah (sama halnya dengan Menara Kudus) yang disusun dengan sangat rapi yang terdiri dari tiga pintu denga pintu tengah sebagai pintu masuk utamanya namun menurut penuturan narasumber bata-bata itu sebagian besar sudah tidak asli, namun sudah pernah dipugar yang dipimpin oleh para arkeolog dari Surakarta. Pada tahun 1996 Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah menetapkan gapura masjid wali sebagai bangunan cagar budaya yang wajib dilestarikan dan dipelihara.
Bagunan asli dari masjid ini sebenarnya adalah kayu jati yang beberapa sudutnya terdapat ukiran-ukiran cantik, adapula beduk serta tempat wudhu namun kini telah dipugar beda jauh dengan bangunan aslinya, serta entah kemana peninggalan-ppeninggalan itu. berkat keberhasilan besarnya itu ia diberikan julukan oleh Ratu Kalinyamat dengan sebutan “Sungging Badar Duwung” yang jika diartikan satu-satu Sungging berarti ahli ukir, Badar artinya Batu, dan Duwung berarti tatah (alat ukir). Dia inilah yang dipercaya oleh masyarakat Kudus sebagai orang yang mengawali seni ukir gebyok di Kudus.
Tradisi Pengantin Mengelilingi Gapura Masjid Wali
            Masyarakat Loram Kulon percaya bahwa sepasang Pengantin yang salah satu atau keduanya merupakan warga desa Loram, wajib mengelilingi gapura Masjid sebanyak 3 kali sambil membaca “Allahumma barik lana bil khoir” (Ya Allah berkahilah kami dengan kebaikan) akan mendapankan limpahan rizki serta kelangsungan kehidupan mereka akan langgeng penuh berkah Allah. Kepercayaan ini tidak lepas dari tradisi ratusan tahun lalu yang telah mereka lakukan. Sesuai kelanjutan cerita diatas setelah masjid berdiri kokoh lengkap dengan gapura mirip Pura masyarakat Loram dan sekitarnya semakin banyak yang memeluk Agama Islam yang dulunya beragama Hindu-Budha, setelah mereka selesai melaksanakan ijab sepasang pengantin akan meminta didoakan oleh pendidri masjid tersebut yaitu Tjie Wie Guam. Semakin lama semakin banyak pengantin yang minta didoakan untuk mempesingakat waktu beliau menyuruh mereka untuk mengelilingi gapura dan akan di doakan secara bersama-sama.
            Setelah jaman modern seperti sekarang prosesi ini sudah di kemas dengan modern setelah selesai melakukan ngubengi gapuro sepasang mempelai akan melakukan prosesi foto dengan gapura masjid wali sebagai backgroundnya. Sebenarnya ini bukanlah kewajiban namun masyarakat percaya siapa yang tidak melakukan ritual ini suau saat akan mendapatkan banyak rintangan dalam kehidupan berkeluarganya.