Senin, 18 Juni 2012

Biografi Singkat Liem Sioe Liong


Liem Sioe Liong Pengusaha Kaya yang Dekat Dengan Pak Harto
 (Perjalanan Hidup dari Tiongok, Probolinggo, Kudus, Lasem Hingga Jakarta)

 Indonesia, Om Liem, Indomie, dan Pak harto


v  Liem Berpulang di Usia 97 Tahun
Mobil itu masuk jurang. Seluruh penumpang tumpah. Banyak yang gelunjuran ke jurang dalam. Semua mati. Kecuali pria tambun itu. Dia luka parah di hampir sekujur tubuh. Kakinya patah. Kendati masih bernafas, benturan membuatnya semaput. Tak sadar diri.

Dirawat berhari-hari dia beruntung. Sembuh total. Lelaki ini mengenang keberuntungan itu lewat putra ketiga. Anak itu diberi nama Liem Fung Seng. Fung artinya beruntung. Kelak si bayi kecil itu lebih sohor dengan nama Indonesianya, Antony Salim.
Liem Sioe Liong, begitu nama si ayah itu, hidupnya kelak memang beruntung. Sukses menjadi taipan kaya raya. Menekuni bisnis hingga usia senja dia wafat lima hari lalu. Minggu 10 Juni 2012 di Singapura. Dalam usia yang terbilang jauh, 97 tahun. Tamu penting dari berbagai negara datang melayat. Dari pengusaha hingga politisi.
Selain sejumlah pengusaha besar, dari Jakarta melayat pula sejumlah tokoh partai politik. Ada mantan Ketua Ketua Umum Golkar Akbar Tanjung, Presiden Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri, sejumlah mantan menteri dan para politisi dari berbagai partai. Oom Liem, begitu ia disapa, akan dimakamkan di Chua Chu Kang Singapura, Senin 18 Juni 2012. Pemakaman itu akan dihadiri sejumlah pengusaha dan tokoh politik dari Indonesia. Mereka umumnya adalah kawan lama sang taipan.
v  Awal Merilis Indomie dari Membantah Pak Harto
Liem Sioe Liong adalah jejak bisnis negeri ini. Dia merintis banyak usaha. Dan hampir semuanya meraksasa. Dari semen, makanan hingga bank. Merangsek hingga ke kampung-kampung. Menjulang di kota besar. Dia adalah contoh bahwa perselingkuhan bisnis dan kekuasan, bisa tanpa batas.
Selain berkawan dengan  banyak pengusaha, Liem memang berkawan dengan banyak politisi dan juga sejumlah petinggi militer. Semenjak muda berkawan dekat dengan Soeharto. Perkawanan itu bersambung hingga Soeharto menjadi presiden selama 32 tahun.
Persahabatan Liem Sioe Liong dengan Soeharto itu bisa ditonton dari acara Minggu pagi 24 September 1995. Itu acara bertajuk Musyawarah Nasional Kerukunan Usahawan Kecil dan Menengah. Digelar di Tapos Bogor di kawasan peternakan sapi milik Soeharto. 
Sebuah tenda besar didirikan di sana. Tenda itu berdiri di antara rerumpunan bambu. Jumlah peserta 150 orang. Semua berbaju batik. Acara ini sesungguhnya adalah dialog antara Soeharto dengan para konglomerat. Disiarkan langsung TVRI.
Di depan para taipan itu Soeharto berbicara tentang tanggungjawab sosial. Dia meminta para pengusaha kakap yang hadir di situ  membantu pengusaha kecil. Membantu rakyat demi pengentasan kemiskinan.
Setelah bicara panjang lebar dia meminta para pengusaha itu memberi tanggapan.
Liem Sioe Liong yang berkepala botak dengan batik cokelat lengan panjang itu mengacungkan jari. Sesudah ditunjuk Soeharto dia bicara. Nadanya membantah. Dia tidak setuju konglomerat membantu pengusaha kecil atas dasar belas kasihan. Harus ada kalkulasi bisnis. Hingga keduanya, kata Liem, sama-sama untung.
Pada tahun-tahun itu, di mana semua kekuasaan berhimpun ditangannya,  hampir tak ada yang berani membantah Soeharto. Apalagi di muka umum. Itu sebabnya bantahan Liem itu agak mengejutkan. Mimik wajah Soeharto memang sedikit berubah. Agak cemberut. Tapi itu cuma sebentar sebab dia segera mencairkan suasana.
Perkawanan keduanya juga bisa didengar dari guyonan Soeharto dalam pertemuan di Tapos itu. Dan itu sesungguhnya lebih sebagai pembelaan terhadap sang kawan, ketimbang sebagai sebuah kelakar. Saat itu bisnis Bogasari milik Liem sedang moncer. Banyak yang bilang bisnis itu menjulang lantaran dia memonopoli impor gandum.
Dan inilah pembelaan Soeharto. Yang membuat cerita ini bernada kelakar adalah dia mengisahkannya dengan meniru suara Oom Liem yang cadel berat. Pada tahun 1970-an, kisah Soeharto dalam pertemuan itu, Liem datang menjumpainya. Dia berbicara dengan suara cadel. “Pak, saya ini olang kelja. Untuk lakyat apa yang halus saya lakukan.”
Soeharto menjawab sembari memberi nasihat. Dia meminta Oom Liem agar jangan berpikir dagang melulu. Rakyat,  kata Soeharto, butuh pangan. Lalu Soeharto bertanya apakah Liem punya kawan di luar negeri yang bisa membantu. Dia menjawab ada. “Kalau begitu kamu dirikan pabrik terigu,” kata Soeharto. Liem lalu mendirikan pabrik terigu itu dan sukses. Kini perusahaan itu meraksasa dalam rupa-rupa produk. Dari terigu hingga indomie.

*** Usia 11 Tahun Merantau ke Hindia Belanda
Liem Sioe Liong lahir 10 September 1915 di Futching, Provinsi Fujien, Tiongkok Selatan. Menurut buku “Liem Sioe Liong, dari Futching ke Mancanegara”  karangan Sori Ersa Siregar dan Kencana Tirta Widya, Liem lahir sebagai anak kedua dari keluarga petani di Desa Ngu Ha, Hai Kou.
Ayahnya meninggal dunia saat Liem masih belia. Lantaran masih belia itu, sebagian sawah milik keluarganya terpaksa dikerjakan orang lain. Hasilnya dibagi. Sedang sebagian lainnya dikerjakan kakak tertuanya, Liem Sioe Hie.
Tapi sang kakak kemudian meninggalkan Tiongkok. Dia  merantau ke Hindia Belanda. Ketika itu usia Liem baru 11 tahun. Ketika tiba di Hindia Belanda, Liem Sioe Hie menetap di Probolinggo sebelum akhirnya menetap di Kudus. Di kota Kudus itu dia memiliki paman bernama Liem Kiem Tjai, yang telah mandiri dan mendirikan pabrik kecil. Pabrik itu bergerak dalam bidang pembuatan dan penjualan minyak kacang.
Sepeninggal sang kakak, Liem muda menjadi tumpuan keluarga di Tiongkok. Tapi itu cuma sebentar. Pada tahun 1938, Tiongkok diguncang perseteruan antara kaum Komunis dan Nasionalis yang dimotori Chiang Kai Sek. Kian kisruh negeri itu, setelah Jepang melancarkan serangan kilat dan berhasil menduduki Beijing.
Di tengah kekacauan itu Liem tergerak untuk merantau. Menyusul kakaknya yang sudah terlebih dulu melaju ke Hindia Belanda. Dari pelabuhan Hai Kou, Liem Sioe Liong bertolak menuju Xiamen. Dan dari sana ia mengarungi lautan Tiongkok Selatan yang luas dengan menumpang kapal milik perusahaan Belanda, JCJL. Saat itu umurnya 23 tahun.

Menggunakan perahu kecil, dia berhasil mendarat di Surabaya. Dia berharap kakaknya akan menjemput. Celaka sebab sang kakak tak tampak. Lantaran tak dijemput dia pun ditahan imigrasi. Tak boleh keluar. Selama empat hari dia hanya mondar-mandir di wilayah pelabuhan. Selama itulah Liem makan seadanya.
*** Kudus Kota Pertama Ia Berkarier, Bertemu Pujaan Hati di Lasem
Persis pada hari keempat kakaknya menjemput. Liem  dibawa ke Kudus. Di kota itulah dia mulai belajar berdagang. Pekerjaan pertamanya adalah menjadi tukang kredit (mindring). Dia mulai berkeliling ke pasar atau ke desa-desa terdekat menawarkan kredit. Usahanya berkembang.
Namun usaha Liem bangkrut saat Jepang merangsek  tahun 1942. Sebab, Jepang melarang pekerjaan tukang kredit. Usaha ini merugi. Dengan alasan takut ditangkap Jepang para peminjam uang tak mau membayar sisa utang.
Beruntung sebelum Nipon itu datang dan bisnisnya masih moncer, Liem bertemu dengan wanita yang amat dicintainya Lie Las Nio. Tak lama setelah Jepang masuk, Liem menikahi gadis asal Lasem itu.
Jepang cuma kuat tiga tahun. Sebab Belanda datang mengandeng sekutu. Saat Belanda masuk, Liem Sioe Liong mendapat titipan dari tentara republik untuk menjaga orang penting yang tengah dicari intel Belanda. Orang penting itu adalah Hassan Din, ayah dari Fatmawati dan mertua Presiden Soekarno.
Melalui Hassan Din inilah Liem Sioe Liong berkenalan dengan beberapa pimpinan tentara republik di Jawa Tengah. Dari sinilah dia menjadi pemasok makanan, pakaian dan obat-obatan. Juga senjata bagi tentara. Tapi Liem pernah membantah soal senjata itu. “Saya tidak pernah terlibat dalam suplai senjata,” ujarnya.
Selain menjadi pemasok makanan, Liem juga memulai usaha sebagai pemasok cengkih ke pabrik-pabrik rokok di Kudus. Menurut Richard Robison dalam bukunya “Indonesia, The Rise Capital” usaha Liem kian kokoh pada tahun 1950-an saat ia menjadi pemasok tetap kebutuhan Divisi Dipenogoro, Jawa Tengah. Ketika itu Soeharto  menjadi Panglima Dipenogoro. Dan inilah titik terpenting dalam kehidupan Liem.
Meski berkawan semenjak lama, dalam “Soeharto, Pikiran, Ucapan & Tindakan Saya” yang ditulis Ramadhan KH dan G. Dwipayana, Soeharto tak pernah menyinggung nama Liem Sioe Liong pada bagian ‘Semasa Jadi Panglima TT-IV/Dipenogoro’. Soeharto malah menyebut nama Bob Hasan saat Soeharto menyelundupkan gula di Jawa Tengah dan membarternya dengan beras dari Singapura. Insiden ini juga yang membuat Soeharto sempat dipanggil dan ditegur KSAD Gatot Subroto.


Pada awal tahun limapuluhan,  Liem pindah ke Jakarta. Dia tinggal di Jalan Gunung Sahari VI, Jakarta Pusat. Di sinilah Liem mulai membangun kerajaan bisnisnya.  Kantor pusatnya berada di Jalan Asemka, Kota.

**** Masuk 100 Orang Terkaya Dunia
Sudah menjadi rahasia umum, Liem memiliki hubungan yang cukup dekat dengan  Soeharto. Hubungan itu kian lekat setelah Soeharto menjadi Presiden RI kedua setelah krisis politik tahun 1965. Selama periode ini, Liem Sioe Liong mengadopsi nama Indonesia Sudono Salim. 

Pada tahun 1968, bersama PT Mercu Buana yang dikelola Probosutedjo, PT Mega milik Liem Sioe Liong diberikan impor monopoli cengkeh oleh Suharto. Ini membuat keduanya kaya raya. Pada 1969, Om Liem, panggilan akrabnya, berkongsi dengan pengusaha Sudwikatmono, Djuhar Sutanto, dan Ibrahim Risjad membentuk CV Waringin Kentjana. Om Liem sebagai Chairman dan Sudwikatmono --sepupu Soeharto-- sebagai CEO.

"The Gang of Four" ini kemudian mendirikan pabrik tepung PT Bogasari pada 1970. PT Bogasari diberi lisensi untuk memonopoli perdagangan gandum di Indonesia bagian Barat. Menurut Retnowati Abdulgani-Knapp, penulis buku “Soeharto, The Life and Legacy of Indonesia Second President,” PT Bogasari berhasil mengamankan pasar tepung terigu Indonesia yang nilainya mencapai US$400 juta per tahun.
Kemudian pada 1975, kelompok ini mendirikan pabrik semen PT Indocement Tunggal Prakarsa. Pabrik ini berkembang pesat dan sempat memonopoli pasar semen di Indonesia.

Belakangan Ciputra bergabung. Mereka kemudian mendirikan perusahaan real estate PT Metropolitan Development yang membangun perumahan mewah Pondok Indah dan Bumi Serpong Damai.
Om Liem juga mendirikan bisnis otomotif melalui bendera PT Indomobil dan perbankan melalui Bank Central Asia (BCA). BCA menjadi salah satu perbankan swasta terbesar yang memiliki ribuan cabang di Indonesia.
Lewat berbagai lini bisnisnya ini, mengantarkan Liem menjadi orang terkaya di Indonesia dan Asia. Bahkan pemilik Indofood ini pernah masuk daftar 100 orang terkaya  dunia.
*** Masa-Masa Sulit Saat Krisis Moneter
Kemelut politik kembali melilit Indonesia. Bermula dari krisis moneter, mahasiswa Indonesia bergolak. Soeharto akhirnya mundur pada bulan Mei 1998. Saat itu juga, kehidupan Liem ikut terpuruk.
Pada saat krisis moneter 1998, bisnis Grup Salim jatuh. Liem harus menyerahkan sekitar 108 perusahaan kepada pemerintah guna membayar utang Rp52,7 triliun. Termasuk BCA.
Tak hanya bisnisnya yang jatuh, Om Liem pun harus menghadapi keberingasan massa pada 1998. Rumahnya  di Jalan Gunung Sahari VI, Jakarta, dijarah massa. Seperti diceritakan anaknya, Anthony Salim, massa merangsek ke dalam rumahnya dan menyeret sebuah foto besar sang ayah. Penuh emosi massa mencoret lukisan tersebut dengan kata, ‘Antek Soeharto.’ Suasana mencekam yang menggurung Jakarta pada 1998 itu membuat Sudono Salim memutuskan untuk meninggalkan Jakarta. Dia terbang ke Singapura.
"Ketika rumah Anda telah dibakar, incaran selanjutnya dari massa yang sedang mengamuk adalah penghuninya," kata Anthony seperti dikutip The New York Times. "Anda pasti tak mau terperangkap dalam situasi seperti itu."  Setelah reformasi, Soeharto dan Liem Sioe Liong memang seperti keping koin terpisah. Soeharto menghabiskan waktunya di Jalan Cendana Jakarta, sementara Liem Sioe Liong di Singapura.
Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofyan Wanandi, praktis setelah reformasi keduanya tak pernah berhubungan. “Alasannya keadaan politik dan keamanan tidak memungkinkan,” ujarnya.
*** Mundur Dari Bisnis dan Ahir Hidupnya
Faktor kesehatan juga menjadi penyebab keduanya tak bisa bertemu. Soeharto dililit penyakit terus-menerus. Liem juga begitu. Dia memutuskan mundur total dari bisnis. Menyerahkan tanggungjawab mengelola bisnis itu ke anaknya, Anthony Salim. Dia jarang ke Jakarta.

Penampilan terakhirnya di depan publik adalah 10-11 September 2005. Saat itu  dia merayakan ulang tahun ke 90. Pesta selama dua hari itu digelar di Hotel Shangri-La Singapura. Undangan yang datang sebanyak 2.000 orang.
Para tamu yang datang kebanyakan pebisnis dari Indonesia, China dan Amerika. Anak-anak Soeharto juga datang ke acara itu. Mereka adalah Siti Hardijanti Rukmana, Siti Hediati Harijadi, dan Siti Hutami Endang Adiningsih. Tiket pesawat dan penginapan ditanggung keluarga Liem.  Biaya yang dikeluarkan diperkirakan lebih dari S$2 juta.

Sesudah Soeharto wafat, kesehatan Liem juga mulai mundur. Ia mulai sakit-sakitan. “Dia sakit tua,” kata menantunya, Franciscus Welirang. Dan dia meninggal Minggu 10 Juni 2012.

*) Dikutip Dari Vivanews.com dengan gubahan seperlunya.

Minggu, 17 Juni 2012

Sejarah Berdiri dan Profil SMP Negeri 2 Sulang Kab. Rembang


 Aku Dedikasikan Untuk Sekolah yang Telah Memberiku Ijin Penelitian Skripsi
Lobi SMP N 2 Sulang
SMP Negeri 2 Sulang Kabupaten Rembang. Kecamatan Sulang adalah salah satu dari 14 kecamatan yang ada di Rembang. Letak SMP Negeri 2 Sulang tidak terlalu jauh dari pusat kota Rembang tepatnya di jalan Rembang-Sumber Km. 3 desa Seren kecamatan Sulang No telfon (0295) 5503123 hanya sekitar 3 km ke arah tenggara kota Rembang dengan jalan aspal mulus serta mudah dijangkau menggunakan angkutan desa dan angkutan tradisional yaitu dokar.
Sebagai sekolah yang terakreditasi A dan merupakan Sekolah Standart Nasional, SMP Negeri 2 Sulang mempunyai sarana dan prasarana memadai dan cukup lengkap sehingga mempermudah siswa untuk melakukan proses pembelajaran, walaupun letak bangunan sekolah berada dekat area perkebunan tebu dan area persawahan penduduk sekolah ini mampu mencetak siswa-siswi yang berprestasi. Siswa-siswi di SMP Negeri 2 Sulang sebagian besar berasal dari desa sekitar yang keluarganya berlatar belakang wiraswasta, petani, serta pegawai negeri. Keunggulan lainnya yaitu sekolah ini memiliki lapangan sepak bola standart terpisah dengan lapangan upacara yang terletak di tengah-tengah komplek bangunan sekolah, lapanga volly, serta lapangan basket yang cukup bagus. Adanya musholla sekolah yang bersih dan terawat melengkapi keinginan warga sekolah untuk melaksanakan ibadah bagi yang beragama Muslim, terkadang musholla ini juga digunakan sebagai tempat acara besar keagamaan seperti Maulud Nabi, Idul Qurban, serta hari raya keagamaan lainnya.
SMP Negeri 2 Sulang berdiri tahun 1990 atau berdiri pada tahun ajaran 1990/1991 dengan nomor statistik 2010031708049 akreditasi sekolah A, kategoru sekolah SSN, status kepemilikan tanah/bangunan sebagai milik pemerintah dengan luas tanah 13.430 m2/HGB, luas bangunan 5. 170 m2. Untuk menyimpan dan pengiriman biaya operasional sekolah serta kegiatan pembiayaan sekolah ini memiliki nomor rekening sekolah 3-029-10883-8 pada Bank BPD cabang Rembang.
Bagian Depan SMP N 2 Sulang
Sarana yang menunjang kegiatan siswa telah sekolah sediakan dan cukup lengkap memiki jumlah ruang kelas sebanyak 16  ruangan masing-masing berukuran 7x9 m2, ruang kantor guru, kepala sekolah, ruang tata usaha, perpustakaan berukuran 15x8 m2, laboratorium IPA 2 ruangan masing-masing berukuran 18x8 m2, laboratoriun bahasa 9x7 m2, laboratorium komputer 15x8 m2, ruang ketermpilan 9x7 m2, ruang kesenian 9x7 m2, selain itu masih ada ruangan Osis, Pramuka, pos keamanan 2x2 m2, musholla, tempat parkir guru dan siswa, kamar mandi terpisah antara guru dan siswa. Perlu diketahui seluruh area di SMP Negeri 2 Sulang sudah terkoneksi dengan hot spot sehingga mempermudah siswa dan guru untuk mengakses internet sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar.
Staf guru dan karyawan di SMP Negeri 2 Sulang berjumlah 37 orang terdiri dari guru tetap (PNS) 26 orang, guru tidak tetap 2 orang, karyawan tata usaha 4 orang, pegawai perpustakaan 1 orang, penjaga sekolah serta petugas keamanan masing-masing 2 dan 1 orang.
Jumlah siswa dari tahun ketahun tidak jauh berbeda. Pada tahun ajaran 2011/2012 SMP Negeri 2 Sulang mempunyai jumlah siswa 499 terdiri dari kelas VII 160 siswam, kelas VIII 150 siswa, dan kelas IX 189 siswa. Sebagai salah satu sekolah menengah pertama negeri di kabupaten Rembang yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, maka SMP Negeri 2 Sulang memilki visi dan misi sekolah yaitu:
Visi
“Luhur dalam budi, kokoh dalam iman, kreatif dalam meraih prestasi”
Indikator:
1.      Terwujudnya pengembangan dan peningkatan kualitas SMP Negeri 2 Sulang yang sesuai Standar Nasional Pendidikan
2.      Terwujudnya Sumber Daya Manusia yang unggul dalam prestasi dan kaya dalam kreasi
3.      Terwujudnya peningkatan/pengembangan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
4.      Terwujudnya peningkatan/pengembangan prestasi akademik dan non akademik.
Misi
1.      Mewujudkan peningkatan kualitas Sekolah sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (Standar Isi, Standar Proses, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan dan Standar Penilaian Pendidikan)
2.      Mewujudkan pendidikan yang menghasilkan Lulusan yang cerdas, trampil, berbudi, beriman, bertaqwa dan memiliki keunggulan kompetitif
3.      Menumbuhkembangkan nilai-nilai budi pekerti yang luhur dalam sikap dan perilaku sehari-hari
4.      Membangun komitmen untuk selalu patuh dan taat menjalankan perintah Tuhan Sang Pencipta dan menjauhi larangan-Nya
5.      Memotivasi dan meningkatkan semangat siswa dalam berkompetisi meraih prestasi
6.      Menumbuhkembangkan bakat dan prestasi siswa dengan kebebasan berekspresi dan bereksplorasi konstruktif.

Kamis, 07 Juni 2012

Sebuah Kata-Kata Bijak dari Westminster Abbey, Inggris 1100 M Untuk Rembang-ku



ilustrasi
Ketika Aku Masih Muda  dan Bebas Berkhayal , Aku Bermimpi Ingin Mengubah Dunia

Seiring dengan Bertambahnya Usia dan Kearifanku , Kudapati Bahwa Dunia Tak Kunjung Berubah
Maka Cita-cita Itupun Kupersempit . Lalu Kuputuskan untuk… Hanya Mengubah Negeriku

Namun Tampaknya  Hasrat itupun Tiada Hasil. Ketika Usia Semakin Senja, Dengan Semangatku yang Masih Tersisa
Kuputusan untuk Mengubah Keluargaku, Orang-orang yang paling dekat denganku

Tetapi Celakanya. Merekapun tidak Mau Berubah
 Dan Kini…Sementara Aku Terbaring Saat Ajal Menjelang… Tiba-tiba kusadari:
Andaikan yang Pertama kuubah adalah diriku,
Maka dengan Menjadikan Diriku Teladan, Mungkin Aku Bisa Mengubah Keluargaku

Lalu Berkat Inspirasi dan dorongan mereka, Bisa Jadi akupun Mampu Memperbaiki Negeriku
Kemudian Siapa tahu, Perubahan Negeriku akan membuat dunia ini berubah