Selasa, 27 Maret 2012

Pakaian Adat Kudus & Batik Lasem Akulturasi Istimewa


Pakaian Adat Kudus Menyatu Dalam Indahnya Batik Lasem
Sebuah Akulturasi Istimewa
 
Anggunya Seorang Perempuan Kudus Memakai Pakaian Adatnya Lengkap Dengan Caping Kalo


            Kudus sejak dulu dikenal sebagai kota yang sangat khas, keunikan budaya, dan kentalnya agama menjadi kota kudus makin dikenal secara luas, ada beberapa wisata religi yang bisa anda kunjungi di Kota Kretek ini, antara lain Makam Sunan Kudus beserta menara Kudus yang terkemas unik seperti bangunan Mehru di Pura yang ada di Bali hal ini tidaklah mengherankan karena Sunan Kudus Ketika itu bermaksud mengakulturasikan budaya lokal yang saat itu masyarakat Kudus masih beragama Hindu sebelum Majapahit runtuh sekitar abad 15 M selain itu beliau juga melarang Umat Islam di Kudus untuk menyembelih sapi sebagai toleransi terhadap umat Hindu di Kudus saat itu dan berlanjuthingga kini dan Makam Sunan Muria di lereng Gunung Muria dengan suasana khas pegunungan nan asri selain itu juga terdapat air terjun yang cukup indah yaitu Air Terjun Monthel yang masih terletak tidak jauh dari makam Sunan Muria. Kedua makam Walliyullah ini tek pernah sepi dengan kenjungan para peziarah yang datang dari pelosok tanah air.
            Namun dalam tulisan saya kali ini tidak membahas tentang wisata yang ada di Kudus tetapi akan membahas tentang pakaian adat Kudus yang unik lengkap dengan Caping Kalo nya dengan Batik Lasem sebagai jarit (bawahan) dari pakaian adat perempuan Kudus ini.
            Dosen saya Bapak R. Suharso, MP,d. yang juga seorang Kudus dalam sela-sela perkuliahan Sejarah Lokal pernah berkata ”Jika engkau datang ke Kudus maka engkau akan terpesona dan menganggap Kudus sebagai rumah ke-2 mu” dan terbukti saya yang setelah wara-wiri (bepergian_red) ke rumah saudara saya di Jati Kulon, Kudus saya benar benar di buat kagum dengan ke indahan kota, pesatnya perekonomian, dan yang membuat saya lebih kagum lagi adalah melihat seorang perempuan Kudus mengenakan pakaian adatnya, sungguh terlihat sangat cantik nan anggun namun sayang pakaian itu hampir punah dan kini kita bisa melihatnya hanya dalam event-even tertentu saja seperti saat Karnaval Budaya ahir 2011 lalu, kebetulan saya ikut berpartisipasi dalam karnaval itu karena memang bertepatan dengan Praktik Pengalaman Lapangan saya di salah satu SMP Negeri di Kudus.
            Nah pertanyaanya mengapa kudus sampai mempunyai pakaian adat sendiri yang begitu khas dan cenderung lebih tertutup dibanding pakaian adat Jawa? Berikut saya paparkan.
Pakaian Adat Kudus dengan Jarit Batik Lasem
Pakaian Adat Kudus sekilas anda melihatnya pada  busana laki-lakinya tidak beda jauh dari pakaian adat Jawa, memakai blangkon gaya Surakarta, beskap ala Kudusan, kain batik Lasem bermotif tumbuh-tumbuhan dan bunga dengan warna warni yang mencolok sebagai bawahannya (jarit sinjang Laseman), memakai keris model gayaman atau ladrangan dengan sepatu selop hitam. Sedangkan untuk busana perempuannya sungguh sangat unik dan menarik untuk diperhatikan yaitu pemakaian caping kalo (tampah kecil) di atas kepala yang dipasang agak miring ke kiri menutupi sebagian rambut yang di gelung. cukup aneh memang namun justru itu yang membuat saya kagum, baju yang dikenakan memakai baju yang orang Kudus bilang baju kurung bludru yang kebanyakan pakian laki-laki maupun perempuan berwarna biru tua, kemudian selendang lurik  Tohtawu yang di sampirkan dipundak layaknya pakaian adat Melayu yang berwarna gelap pula dan tak ketinggalan aksesoris seperti kalung, gelang dan giwang berwarna emas membuat kesan anggun siapapu yang memakainya serta penggunaan batik Lasem sebagai bawahan menambah manis pakaian adat Kudus ini .
Busana adat Kudus cenderung lebih tertutup dibanding pakaian adat Jawa pada umumnya karena tidak mengherankan Kudus sejak dulu hingga kini dikenal sebagai kota yang Religius. Mengapa kudus mempunyai pakian adat sendiri kemungkinan karena kudus adalah kota yang berdekatan dengan Kesultanan Demak Bintoro pasca Majapahit runtuh ia berusaha memiliki jati dirinya sendiri menyesuaikan pakaian para pembesar-pembesar kesultanan Demak yang berlandaskan azas keIslaman dan 2 diantara 9 Wali Songo berada di wilayah Kudus membuat Kudus menjadi kota religius bahkan sebelum Islam datang berkembang di sana Abad 16 M.
Namun sampai sekarang saya belum menemukan jawaban mengapa batik Lasem digunakan sebagai jarit pakaian adat kudus? Apa sebenarnya hubungan Lasem dan Kudus? Seerat apa hubungannya ketika itu? Temukan jawabannya pada tulisan saya selanjutnya. Trimakasih semoga bermanfaat. Ayo Terus Lestarikan budaya kita!
Coba Perhatikan foto Disamping sungguh sangat cantik dan aggun bukan?, keindahan Batik Lasem akulturasi budaya lokal dan tiong hoa yang tersohor itu sangat istimewa berpadu dengan pakaian adat kudus yang begitu khas warna merah darah (khas Batik Lasem) dengan motif tumbuhan sulur-suluran berwarna warni membuat semakin batik ini semakin manis dan banyak kolektor lokal bahkan mancanegara berebut untuk mengoleksinya. Semoga budaya yang sangat luhur ini terus ada dan anak cucu kita kelak masih bisa melihatnya,bukan hanya melihat mereka juga harus tau sejarah perjalanan pakian adat Kudus ini, nah tugas kita sebagai generasi sekarang untuk mempelajarinya dan menceritakan ke anak cucu kita. (S.A Atmadja)

4 komentar:

  1. Holy City, begitulah mereka (para friendster_ketika fs berjaya, ya sekitar tahun 2007-an))menyebut kota kudus. Bang agung orang Rembang, tapi telah memilih kudus sebagai kota kedua anda, apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya untuk anda dan pak R. Suharso, MP,d. Dan saya berharap semoga Blora dapat menjadi kota ketiga anda.
    Pakaian adat yang abang tampilkan memang agak disayangkan terkadang munculnya hanya pada saat event2 tertentu. Tapi yang terpenting, tulisan kecil kita merupakan langkah RIIL kita untuk turut melestarikan baju tersebut. Yang sampai saat ini masih sangat lekat dan bahkan jadi komoditas Ekspor kota Kudus yaitu ukiran gebyok Kudus dan kain batik kudus.
    Saya mencintai kudus seperti saya mencintai Indonesia. Banyak hal yang saya suka dari Kota Kudus, perkembangn industrinya, iklim kerakyatannya, "bahkan kekecilan" arealnya. Kudus kota terkecil di Jawa tengah, justru itulah yang saya suka. Kekecilan areal suatu wilayah berbanding lurus dengan tingkat kemaksiatan.
    Selamat datang di Kudus..... Selamat menikmati dan semoga Kudus dapat menjadi kota impian Anda.
    Tapi ada 1 lagi bang cita2ku yang belum kesampaian: aku pengen Jokowi nyalon jadi bupati Kudus saja. Oh alangkah senangnya dan lengkaplah kebahagiaanku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejak aku masih kecil bang, di ajak ibuku ke "Matahari" hehe aq dlu tabjub bgt telah merasakan
      ke wah han kota wali ini..menara kudus juga menjadikan aku pnasara kala aq masih SD dapat uang kuno bergambar menara kudus.. ahirnya cita2 ku ksampean stlh ke dua kakakq dapet orang kudus dan satunya lagi tinggal dankerja di Kudus. eh lha da lah aku PPL juga di Jati Kudus...Amazing!!! Tuhan telah menjodohkanku dg KOta Mungil ini..kota ke dua sprti yg tlh aku critakan ke bang Nuha..bukan tampa alsan bang budaya, keramahan, kaeindahan serta daya tarik historis Kudus membuat siapapun akan jatuh cinta pd kota ini. Blora blm masuk kota ke 3 saya bang justru Bekasi mjd kota ke 3 ku...
      gebyok Kudus keren bgt bang aku pernah baca di koran dg ukiran Nanas ditengah pintu masuk gebyok khas bgt rumit g kalah ma ukiran Jepara... Pakaian adatnya juga di padu dg Batik kotaq LAsem, semakin membuat aku penasaran dan cinta ma KOta Kudus, Nah "kutukan" dosenku memang benar bang aku telah terpesona dg Kudus dan menganggap kota Kudus sbg kota ke-2 ku... skss bwt bang nuha,,,salam Kota Kretek!

      Hapus
  2. postingan berikutnya mana bang??? penting nih buat study pustaka

    BalasHapus
  3. lihat di khoirul huda saba blog
    bloggernya orang kudus
    materi pelajaran sma, tugas lunas, gak pusing, nilai bagus, cepat lulus,
    please visit me on :
    hudasaba.blogspot.com

    BalasHapus