Selasa, 20 September 2011

Batik Cap Kuda Lasem (Batik Akulturasi Budaya Lokal & Tiong Hoa)

Papan arah menuju Batik Tulis Cap kuda

Batik Tulis Lasem Cap Kuda
Desa Gedongmulyo Gang IV/1 Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang
Jawa Tengah 59271

Narasumber : Bapak Purnomo 56 tahun (pemilik batik tulis Lasem Cap Kuda)

Batik Lasem telah lama menjadi icon yang membuat nama Rembang banyak dikenal hingga tingkat Nasional bahkan Internasional, karena uniknya Batik Lasem banyak pecinta Batik mencarinya menurut mereka warna khas merah darah dan motif burung Phoenix yang menjadi daya tariknya yang tidak dimiliki batik lain di Indonesia, untuk lebih jelasnya berikut wawancara saya bersama Bapak Purnomo 56 Tahun pemilik Batik tulis Lasem cap Kuda :
Apa yang membuat Batik Lasem banyak dicari pak?
. "Batik Lasem itu lucu dan manis. Jadi banyak orang  yang suka", demikian dituturkan oleh  bapak Purnomo. Pengusaha batik asal Lasem yang juga keturunan Tiong Hoa, selain memproduksi ia juga punya hobi mengoleksi batik tulis tradisional pesisiran dan pedalaman Pulau Jawa. Hingga kini koleksinya sudah mencapai 1.400-an helai. Bila dipukul rata panjang setiap kain 2 m lalu dibentangkan, seluruhnya mencapai 2,8 km panjangnya, atau kira-kira 7 kali lintasan atletik. Malah bisa jadi jauh lebih panjang dari itu karena kebanyakan lebih dari 2 m panjangnya, bahkan ada yang hampir 4 m, meski ada juga yang kurang dari 2 m.
Bagaimana perkembangan Batik Tulis Lasem dan apa tantangannya?
Lasem, selain disebut Kota Pecinan, Kota Santri dan Kota Tua, juga dikenal sebagai Kota Batik Tulis. Memang, dibanding dengan Solo dan Pekalongan, batik Lasem bisa dibilang ketinggalan. Sebab dua kota tersebut sekarang mengembangkan batik printing yang bisa diproduksi pabrik.Memang batik tulis mempunyai nilai seni cukup tinggi, sehingga nilai jual batik juga cukup mahal sesuai dengan rumitnya dan lamanya pembuatan batik tulis. Tetapi konsumen dari batik tulis ini juga terbatas, yakni dari kalangan penggemar batik berbau seni dan kalangan menengah ke atas mengingat harganya cukup mahal. Beruntung, sekarang ini ada batik tulis yang harganya cukup murah. Yakni, antara Rp 50.000-Rp 60.000 per potong, sehingga terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah jadi bisa lebih memperkenalkan batik ke masyarakat luas.

Bagaimana Pemkab Rembang memposisikan komoditas Batik Lasem ini?
Batik tulis Lasem merupakan salah satu komoditas unggulan industri kecil di Kabupaten Rembang selain komoditas yang lain. Seperti bordir, kerajinan kuningan di Jolotundo Lasem, mebeler, perikanan (ikan asin) dan lainnya. Batik Tulis Lasem merupakan peninggalan nenek moyang dan berkembang mulai pertengahan abad ke-17. Sentra Batik Tulis Lasem antara lain di Gedongmulyo, Karangturi, Soditan, Selopuro, Sumbergirang dan Babagan di Kecamatan Lasem. Kemudian Desa Jeruk dan Karahkepoh, Kecamatan Pancur.
Berapa jumlah pengusaha batik di Lasem dan berhasil menyerap berapa tenaga kerja?
Jumlah unit usaha Batik Tulis Lasem saat ini mencapai 175 unit usaha. Tetapi yang aktif dan besar hanya sekitar 15 pengusaha. Dari jumlah itu berhasil menyerap tenaga kerja dari perajin maupun pegawai lainnya sebanyak 1.590 orang. Kemudian kapasitas produksi mencapai sekitar 38.900 potong per tahun.
Dimana saja daerah pemasaran dari produksi Batik tulis cap Kuda?siapa konsumennya?
Daerah pemasaran Batik Tulis Lasem cap Kuda antara lain meliputi Semarang, Cirebon, Serang, Surabaya dan di Sumatra (Medan dan Padang). Segmen pasar Batik Tulis Lasem masih didominasi kelas menengah ke bawah khususnya kelompok umur orang tua dan dewasa. Segmen pasar kalangan menengah ke atas khususnya pecinta seni dan aliran naturalisme kini sedang digarap serius oleh para pengusaha Batik Tulis Lasem untuk menyesuaikan harga produk yang memang cukup mahal.Selain mendapat tekanan persaingan dari batik printing dalam hal pemasaran, kendala yang dihadapi Batik Tulis Lasem ke depan adalah kemungkinan terputusnya generasi pembatik.
Bagaimana kondisi para pekerja di sini? Apakah ada kendala pelestarian batik?
Saat ini sebagian besar perajin batik masih didominasi para orang tua yang sudah berusia lanjut. Dan membatik bagi mereka hanya merupakan pekerjaan sampingan di sela-sela mengerjakan sawah dan kebun.Sementara itu, kaum muda kurang berminat untuk belajar membatik, karena dinilai kurang menjanjikan. Kendala lain adalah mahalnya harga bahan baku batik berupa kain mori. Kain mori masih harus didatangkan dari luar daerah, sehingga harganya cukup tinggi.

Usaha Dalam melestarikan Batik Lasem?
“Tahun lalu kami sebenarnya sudah menawarkan kepada pemkab agar di sekolah-sekolah SD-SMA mulai diperkenalkan membatik melalui kegiatan ekstrakurikuler. Tetapi hal itu nampaknya belum mendapat tanggapan serius dari dinas pendidikan nasional. Ini saya sampaikan dalam rangka mencari generasi penerus pembatik yang teracam kehilangan genarasi,” . Dia menyatakan, sebenarnya siap datang ke sekolah-sekolah untuk menularkan ilmu membatik kepada murid SD-SMA dalam kegiatan ekstra kurikuler. Tetapi beberapa sekolah yang sempat dihubungi menyatakan tidak ada biaya untuk kegiatan seperti itu. “Kami sebenarnya ingin menjaring calon pembatik dari kalangan anak-anak sekolah, siapa tahu di antara mereka ada yang berbakat menggambar batik yang baik, sehingga ke depan batik tulis Lasem tidak kehilangan generasi pembatik”.
Dari generasi keberapa bapak dalam menjalani usaha ini? Jumlah tenaga kerja dan produksinya?
Dia mengaku sebagai generasi ke empat dari keluarganya yang meneruskan usaha batik tulis ini. Agar usahanya tetap eksis dan terus berjalan, dia terpaksa merekrut sejumlah tenaga muda khususnya dari ibu-ibu muda yang tidak mungkin pergi bekerja ke luar daerah dari beberapa desa sekitar. Misalnya dari Desa Pohlandak, Karaskepoh dan lainnya. Usahanya sekarang memperkejakan sekitar 30 orang. Produksinya mencapai sekitar 300 potong/bulan.Batik Tulis memang rumit dan memerlukan waktu cukup lama. Sejak dari bahan dasar mori sampai jadi potongan batik bisa memerlukan waktu antara 10-20 hari. Tergantung dari terik matahari. Jika pada musim penghujan seperti sekarang, satu potong batik baru bisa selesai sampai 20 hari. Tetapi jika panas matahari cukup, dalam 10 hari saja sudah selesai. Lantaran rumitnya pembuatan batik tulis, maka harganya pun cukup mahal.
Berapa harga Batik Lasem produksinya Bapak?
Satu potong batik dengan kain sedang harganya Rp 300.000/potong. Kalau kain dasarnya baik, harganya satu potong bisa mencapai Rp 2 juta."Sekarang jarang yang membuat batik lasem. menyampaikan hal itu sambil menunjukkan motif kawung dari sepotong kain batik lasem. Kain itu dia jual seharga Rp 65.000 per potong kepada pembeli. "Kain ini murah karena batikannya biasa. Tidak halus," katanya.

Galeri Penjualan Batik Lasem Cap Kuda, Jln. Sultan Agung, Lasem

Sejarah singkat tentang batik Tulis Lasem?
Saya prihatin sekarang sudah jarang orang yang membatik kain di Lasem, sebuah kecamatan yang kaya dengan tradisi, khususnya tradisi Tionghoa, di Kabupaten Rembang. Pembatik kain batik lasem kebanyakan adalah keturunan Tionghoa dan sekarang mereka umumnya sudah tua. Lasem, kota kecamatan di bagian timur Kabupaten Rembang, terletak kurang lebih 13 kilometer dari ibu kota kabupaten. Nama Lasem selama ini lebih dikenal dibandingkan ibu kota kabupatennya sendiri, Rembang. Sebagian besar bus dari luar daerah selalu transit di Terminal Lasem dan menempatkan Lasem sebagai jalur kendaraan, dan bukan Rembang. Misalnya, bus jalur Semarang-Lasem.Lasem, konon lebih dari 200 tahun yang lalu, datanglah orang Tionghoa yang kemudian menghuni wilayah ini hingga keturunannya sekarang. Peninggalan pendatang Tionghoa itu masih terlihat jelas dari arsitektur bangunan rumah yang ada di daerah tersebut.Di kota ini berderet bangunan tinggi besar yang kokoh. Dari luar tampak seperti bangunan biasa dengan tembok yang tinggi. Namun, ketika masuk ke dalamnya, terlihat sesuatu yang lain. Ukiran naga pada pintu-pintu besar, serta adanya altar tempat abu jenazah, memperlihatkan dengan jelas bahwa bangunan ini kental dengan nuansa Tionghoa yang disebut omah ombo karena besar dan luas
Menurut pere yang masih terlihat energik kalau berbicara ini, moyangnya adalah pelaut yang terdampar di Indonesia. Konon, mereka adalah pedagang candu yang kaya. Kisah masuknya etnis Tionghoa di daerah ini bahkan sempat diabadikan dalam film berjudul Ca Bau Kan karya Remy Silado. Orang ini juga yang kemudian memperkenalkan dan mengembangkan teknik batik tulis di Lasem, yang kemudian terkenal dengan batik lasem.
Apa yang dimaksud batik Tulis pak?
Menurut penuturan  bapak Purnomo, sejak dahulu batik lasem sangat terkenal. Jenis batik tulis, yaitu batik hasil lukisan tangan pada sepotong kain dengan menggunakan canting-alat lukis yang berfungsi sebagai pena-dan malam, jenis lilin yang berfungsi sebagai tinta untuk membatik, ini mempunyai nilai seni yang tinggi. Tak heran jika harga kain batik lasem mahal.Nilai seni batik tulis lasem terletak pada motif dan kehalusannya dan bersifat relatif. Motif kain batik lasem bermacam-macam. Sedikitnya ada lima motif, yaitu tiga negeri, empat negeri, kawung, rawan, dan kendoro-kendiri. Pembuatan batik dilakukan secara kumulatif, artinya masing-masing orang mengerjakan satu tahapan dalam jumlah banyak. Untuk menyelesaikan 100 potong kain batik tulis, dengan 20 tenaga kerja, waktu yang diperlukan sekitar dua bulan. Pembatikan itu melalui berbagai tahapan, mulai dari pembuatan pola (nglengkreng), menutup bagian yang tidak berpola (nembok), dan mewarnai (nerusi).

Tahap nerusi ini bisa mencapai tiga kali proses, bergantung pada berapa warna yang digunakan. Semakin banyak warna yang digunakan, semakin lama pula prosesnya. "Per potong kain rata-rata dijual seharga Rp 150.000 hingga Rp 300.000. Ada juga yang lebih mahal, sampai Rp 1.000.000. Tetapi, hanya kain yang benar-benar istimewa, baik dari kehalusan batikan maupun motifnya," ungkap Purnomo, pemilik perusahaan batik tulis Cap Kuda di Lasem ini.
Bagaimana posisi batik Lasem dulu, sekarang, dan ke depan?
Menurut  bapak Purnomo, karena harganya yang mahal ini pula, batik tulis lasem mulai tergusur oleh batik cap atau batik printing yang harganya jauh lebih murah. Dahulu, perusahaan ini selalu kehabisan persediaan. Sekarang penjualan hanya rata-rata sekitar 20 potong setiap bulan. "Sejak munculnya batik printing di era 1990-an, kondisi batik tulis lasem menjadi lesu," lanjut pria ini di tokonya yang berisi sekitar 300 potong kain batik. Keadaan ini lebih diperparah oleh krisis moneter yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997. Penjualan batik tulis menjadi sangat merosot dan akibatnya banyak perusahaan batik tulis yang terpaksa tutup.Dari sekitar 100 perusahaan batik tulis yang dulu ada di daerah ini, sekarang yang masih bertahan kurang dari 10 perusahaan. Salah satunya adalah milik Purnomo di Gedungmulyo, Lasem. "Boleh dibilang, kejayaan batik lasem sekarang tinggal 25 persen,".
Selain karena harga faktor apa saja yang membuat terpuruknya batik Lasem pak?
Selain karena faktor harga, kemunduran batik tulis lasem juga disebabkan oleh kehilangan generasi yang menekuni profesi ini. Umumnya angkatan muda dari Lasem lebih memilih merantau daripada mempertahankan tradisi membatik.Purnomo, ayah tiga anak, mengakui, hingga sekarang tidak mempunyai penerus tradisi sehingga ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan usahanya kelak. Akibat lesunya industri batik tulis ini, banyak pekerja yang umumnya adalah warga pribumi beralih ke sektor lain, seperti pertanian dan perikanan. Ada juga yang berusaha membuat industri batik tulis kecil-kecilan, yang kemudian dijual sendiri di pasar. Tentu dengan harga lebih murah.


Bagaimana usaha untuk mempertahankan agar batik Tulis terutama produksi bapak tetap eksis ? dan apa harapan bapak?
Pentinglah upaya mempromosikan batik tulis lasem ke dunia luar. Untuk mengurangi tingkat kemahalan batik tulis, upaya yang ditempuh adalah membuat produk pakaian dengan kombinasi batik tulis lasem dan kain biasa.Upaya ini mulai ditempuh sejak dua bulan lalu. Promosi terutama dilakukan di Jakarta dengan memanfaatkan media elektronik televisi swasta. Langkah ini memang masih awal, tetapi nantinya diharapkan akan memberi hasil yang baik. Ia berharap batik lasem bisa meraih kejayaannya kembali. Bukan hanya dipakai dan digemari banyak orang, tetapi juga bisa menghidupi banyak orang. Batik lasem diharapkan bisa kembali menjadi "lokomotif" perekonomian Rembang.