Rabu, 13 April 2011

Pesona Wisata Rembang (VISIT REMBANG YEAR 2012)

Tugu Masuk Kota Rembang 
Motto : Rembang BANGKIT
Provinsi : Jawa Tengah
Luas : 1.014,10 km
Jumlah penduduk : 577.000 (2003)
Kepadatan : 569/km
Kecamatan : 14 dan 287 desa/kelurahan
Bupati dan Wakil: H.Moch Salim dan H.M Khafid

PESONA KABUPATEN REMBANG

A.Bahasa Dialeg Khas Pesisiran Rembang
Kawula Muda Rembang
            Indonesia mempunyai ratusan bahasa daerah bahkan mungkin ribuan dan masih terbagi atas dialeg-dialeg yang khas karena faktor geografi.Di Rembang sendiri karena memang berada di wilayah propinsi Jawa Tengah yang menggunakan bahasa jawa dalam kegiatan sehari hari mempunyai karakter logat yang khas dibanding bahasa jawa lain. Karena memang berada didaerah pesisir maka jangan heran kalau anda berkunjung ke Rembang mungkin anda akan kaget mendengar orang Rembang berbicara,ya suara keras nan lantang adalah logat khas daerah ini nada berbicarannyapun naik turun dan cenderung lebih cepat temponya.Tentu ini akan membuat anda sulit memahami ketika orang Rembang berbicara pada anda.
            Kalau kita amati bahasa logat pesisiran Rembang agak sama dan memang mempunyai banyak persamaan dengan logat maupun kata dalam bahasa Jawa timur-an karena kabupaten Rembang berbatasan langsung dengan Propinsi Jawa Timur.Dialeg yang khas dari Rembang yaitu penggunaan ahiran “leh” pada setiap perkataan untuk menyatakan rasa heran,kagum maupun jengkel terhadap suatu hal.Misalnya: “Piye leh iki jarene gampang kok malah angel”.Logat lain yang khas yaitu penggunaaan ahiaran em atau nem yang menunjukkan arti milik.Misalnya:”Maturnuwun yo,iki bukunem tak balekno”.Contoh lain “Iki lho omahem kok gede banget”.
            Perbedaan em dan nem yaitu ahiran em digunakan untuk kata yang tidak huruf vocal,sedangkan apabila ahirannya huruf vokal menggunakan ahiran nem.Walaupun demikian orang Rembang masih menggunakan bahasa jawa kromo untuk menghormati orang yang lebih tua.
            Logat ini sebenarnya bukan hanya digunakan di Rembang saja kabupaten Pati,Blora,sebagian besar Kudus,serta perbatasan Blora dengan Grobogan masih menggunakan logat yang hamper sama dengan logat Rembang,dan diyakini logat em dan nem berasal dari Rembang dan menyebar ke daerah lain disekitarnya dan sampai sekarangpun masih lestari digunakan dalam bahasa sehari-hari yang membuat Rembang makin dikenal oleh daerah lain.
B.Tempat Wisata
1. Embung Lodan
 Terletak di wilayah kecamatan Sedan, dan berada di desa Lodan embung ini mempunyai luas sekitar 30 hektar, letaknya diantara bukit indah yang ditumbuhi pepohonan jati dan berada diareal milik Perhutani Sedan. Menurut warga setempat embung lodan sudah ada sejak zaman Belanda yang dulu hingga sekarang berfungsi sebagai pengairan untuk daerah kecamatan Sedan,Sale dan sekitarnya.
            Pada tahun 1970-an embung ini pernah jebol dan menimbulkan banyak kerusakan maupun korban jiwa dan merupakan salah satu peristiwa jebolnya waduk/embung terbesar dalam sejarah Indonesia.Perhatian pemkot Rembang sangat besar terhadap kelestarian alam maka pada tahun 2006 embung ini direhab total menjadi lebih cantik dan modern selesai pada tahun 2008 dengan menelan biaya ratusan milyar rupiah sebagian besar biayanya berasal dari bantuan pemerintah Jepang selebihnya bantuan dari pemerintah Indonesia, Pemda serta Pemkot Rembang.
            Sebenarnya Rembang mempunyai beberapa waduk namun yang paling besar yaitu embung lodan dan embung panohan. Jika anda ke kota Rembang tidak ada salahnya untuk mampir sejenak arahnya sekitar 30 km kearah timur kota Rembang pemandangan yang masih asri dan anda cukup membayar Rp.1000,- untuk sepeda motor dan Rp.2000,- untuk kendaraan roda empat. Uang ini dikelola oleh karang taruna desa setempat untuk perawatan desa dan fasilitas embung.
2. Taman Rekreasi Pantai Kartini (Dampo Awang Beach)
            Adalah tempat wisata paling populer di Kabupaten Rembang, terletak di sebelah kiri gedung bupati Rembang dan berada persis dijantung kota Rembang. Ditempat wisata ini terdapat kolam renang, kebun binatang mini, sarana untuk out bound, serta wisata pantai nan eksotis.
            Tempat wisata ini berubah total setelah pemkab Rembang memberikan hak swasta untuk mengelolanya. Tempatnya yang bagus nan asri dengan pepohonan yang rindang membuat tempat ini selalu ramai pengunjung terutama pada hari minggu dan hari-hari libur nasional, bahkan pengunjunganya banyak pula dari luar kabupaten Rembang.
3. Makam Pahlawan Nasional R.A Kartini
            Terletak kira-kira 25 km kearah selatan kota Rembang, terletak di desa Mantingan kecamatan Bulu, didirikan diatas tanah yang berada di perbukitan dekat dengan hutan jati mantingan. Selain makam ibu Kartini disini juga terdapat makam anggota kluarga lain seperti suami, anak serta kerabat lain. Sejumlah orang penting pernah berkunjung ke tempat ini seperti Bung Karno, Mantan presiden Soeharto, Ibu Tien Soeharto,Megawati, dan masih banyak lagi pejabat tinggi Negara yang pernah berkunjung ke tempat ini.Jika anda menginginkan cindera mata anda bisa membelinya dari pedagang yang ada di sekitar makam.Tempat ini ramai pada peringatan hari Kartini tanggal 21 April. Area pemakaman ini diresmikan oleh Ibu Tien Soeharto pada tahun 1973.
4. Pasujudan Sunan Bonang
            Adalah tempat sunan Bonang mendirikan sebuah pondok sebagai tempat untuk berdakwah dan melakukan syiar agama Islam di Rembang dan sekitarnya. Ditempat ini juga terdapat sebuah batu besar dengan datar permukaan atasnya dan terdapat bekas telapak tangan serta kaki dan diyakini sebagai bekas ketika Sunan Bonang melakukan sholat diatas batu ini. Selain itu terdapat pula makam putri Campa yang konon ia adalah putri cantik keturunan cina yang jatuh cinta kepada Sunan Bonang dan bersedia masuk Islam berserta kedua pengawal setianya.
Setiap harinya tempat ini selalu ramai dengan peziarah dari seluruh jawa bahkan luar pulau. Pasujudan ini terletak diatas bukit kecil dekat pantai bonang di desa Bonang kecamatan Lasem. Kira-kira 4 km kearah timur kota lasem atau sekitar 15 km kearah timur kota Rembang.
5. Pantai Sluke dan Binangun Indah
            Kebanyakan aset wisata Rembang bertumpu pada sector kelautan karena memang terletak di pesisir utara jawa yang lebih tepatnta lagi terletak di pinggir Laut Jawa. Dan Rembang mempunyai motto “Wujudkan Rembang Kota Bahari”. Pantai Sluke sangat elok dengan karang di pinggirnya terketak persis dipinggir jalan pantura tepatnya di kecamatan sluke 17 km kearah timur kota Rembang. Dari pantai Sluke dan binangun indah anda bias menyaksikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU Sluke) yang merupakan distributor listrik Jawa-Bali, dalam waktu dekat pula akan didirikan Pelabuhan Nasional disini.
6.Wisata Alam Sumber Semen
            Terletak di kecamatan Sale kira kira 40 km kea rah selatan kota Rembang,disini anda bisa menyaksikan alam yang masih asli dengan hutan jati yang masih lebat serta terdapat pula satwa-satwa liar seperti kijang, merak, bahkan kera. selain itu anda juga bisa juga masuk kedalam gua yang berada di tengah hutan warga sekitar menyebutnya dengan Gua Rambut.

7.Wana Wisata Mantingan
            Terletak di desa Mantingan kecamatan Bulu dekat dengan perbatasan Blora menawarkan wisata alam dan kolam renang selain itu di dalam area wisata ini terdapat pula binatang hutan seperti kancil,kijang,kera dan merak.Cukup membayar Rp.5000,- anda bisa menikmati udara sejuk dalam hutan jati yang masih asri. Terletak kira-kira 27 km ke arah selatan kota Rembang.

C.Makanan Khas
1. Kaoya
            Makanan khas ini berasal dari kecamatan Gunem, Makanan ini boleh dibilang sangat unik yaitu terbuat dari kacang tunggak atau kacang hijau di goreng sangan (digoreng dengan menggunakan pasir cepu hingga agak gosong) kemudian ditumbuk atau di selep halus dan dicampur menggunakan gula pasir yang telah dihaluskan pula.
            Setelah itu dicetak dengan menggunakan daun lontar yang telah di bentuk seperti bunga yang mempunyai enam lubang dan dijejalkan di lubang tersebut hingga memadat. Rasanya sangat manis serta agak gurih. Namun sayang makanan ini sudah sangat jarang ditemui dan tergolong makanan yang hampir punah. Makanan ini hanya ada pada acara-acara tertentu seperti saat acara sedekah bumi,pernikahan,serta acara sunatan. Jika anda memakannya mungkin akan membuat anda “sereden” dan akan banyak minum air karena jika dimakam akan serasa menyangkut dan menempel di gigi serta tenggorokan anda namun itu merupakan sensasi dari makanan unik ini.
2. Dumbeg
            Makanan ini lebih unik lagi karena dicetak ke dalam wadah yang berbentuk mirip trompet kecil dari daun lontar. Mungkin jika anda yang melihatnya akan menyangka ini bukan makanan tetapi terompet kecil.
            Sebenarnya dumbeg hampir mirip dengan jenang, hanya saja dumbeg terbuat dari tepung beras atau ketan yang dimasak bersama gula pasir atau gula jawa serta santan selama 4 jam, dan di aduk-aduk hingga mengental,setelah mengental kemudian di tuangkan kedalam wadah lontar yang telah dibentuk seperti terompet kecil dan siap disajikan beserta wadah dari lontar tersebut.
            Makanan ini berasal dari Desa Polandhak kecamatan Pancur. Dumbeg jarang pula di jumpai pada hari-hari biasa sama seperti kaoya dumbeg hanya ada pada acara sedekah laut, sedekah bumi serta pada acara pernikahan atau sunatan.
3. Lontong Tuyuhan
Lontong opor ayam telah ada bersama masyarakat Indonesia sejak lama. Tiap daerah menciptakan variasi rasa dan seleranya masing-masing, tak terkecuali lontong tuyuhan, masakan khas Desa Tuyuhan.
Sajian lontong dari desa Tuyuhan kira-kira 13 km kearah timur kota Rembang Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, ini mirip dengan lontong opor ayam. Bedanya, kuah santan lebih kental dan pedas, menonjolkan perpaduan rasa kemiri dan cabe rawit.
Masakan itu dijumpai hampir di seluruh daerah Rembang. Namun, yang cita rasa dan suasananya khas hanya di Pusat Penjualan Lontong Tuyuhan di Desa Tuyuhan. Disebut lontong tuyuhan karena masakan itu berasal dari Desa Tuyuhan. Konon, resep lontong ini diwariskan turun-temurun para leluhur Desa Tuyuhan.
Penjual lontong tuyuhan yang di kompleks wisata kuliner Pusat Penjualan Lontong Tuyuhan adalah Munzeri (51). Dia mengatakan, resep lontong tuyuhan diturunkan kepada kaum perempuan Desa Tuyuhan. Tak heran jika kaum pria hanya tahu cara memasak, tetapi tidak dapat memasaknya. Seolah-olah mereka ditakdirkan untuk menjual saja.
Kekhasan lontong tuyuhan dimulai dari bentuk lontongnya, yaitu berbungkus daun pisang dengan bentuk kerucut segitiga.Adapun cara memasak opor ayam hampir sama dengan memasak opor ayam umumnya. Bumbu-bumbu yang dibutuhkan pun mirip, antara lain bawang merah, bawang putih, lengkuas, kemiri, ketumbar, kencur, pala, dan kunyit.Agar mendapatkan kekhasan pada rasa, bumbu itu masih ditambah cabai merah yang ditumis sampai layu dan jahe. Dan rasa pedas ini memang terasa menonjok, berpadu dengan rasa gurih santan kental.
Sebagai peningkat aroma, ditambahkan pula salam dan serai. Masukkan santan encer, garam secukupnya, dan ayam hingga matang. Berikutnya, tuangkan santan kental dan masak sampai mendidih.”Untuk menambah gurihnya opor ayam, bisa ditambahkan taburan irisan bawang merah goreng,” kata Munzeri.
Angkring
Rata-rata para penjual lontong di Pusat Penjualan Lontong Tuyuhan berdagang sejak pukul 12.00 hingga 20.00, khusus warung Lontong Tuyuhan Munzeri tutup pukul 16.00.Warung milik Munzeri, seperti layaknya rata-rata warung lontong tuyuhan lain, bangkunya berupa dingklik atau kursi panjang terbuat dari kayu dan mejanya pun dari kayu yang bertaplak plastik berornamen bunga.
Tempat meracik lontong berbentuk angkringan pikul dari bambu dan rotan. Hal ini menambah kesan khas lontong tuyuhan.Sebelum menetap di sana, Munzeri memikul angkringan itu keliling kota Lasem. ”Kalau malam, saya meletakkan lampu teplok. Tak lupa saya membawa kendi air minum untuk pembeli di tepi-tepi jalan. Karena sudah menetap, lampu dan kendi itu tidak saya gunakan lagi,” kata Munzeri yang berjualan lontong tuyuhan sejak 31 tahun lalu.
Sejak 1977 hingga 1990, ia meneruskan tradisi Mbah Latmin menjual lontong keliling kota Lasem. Waktu itu, harga seporsi lontong Rp 50, sekarang Rp 7.000.Seiring dengan bertambahnya pelanggan dan prakarsa Pemerintah Kabupaten Rembang memusatkan penjualan.
4. Sirup Kawis/Kawista
Sirup buah Kawista Dewa Burung bikinan Ny M E Heriyati (76) merupakan produk home industry legendaris dari Rembang. Selama hampir 50 tahun, sirup kawista ini menjadi klangenan tersendiri bagi warga Rembang maupun pelancong yang sedang singgah di kota itu. Hambar rasanya jika telah mengunjungi Rembang, tapi belum membawa buah tangan sirup kawista itu.
Menilik jauh ke belakang, sekitar tahun 1952 Ny M E Heriyati yang mewarisi usaha perusahaan Limun Djago dari ayahnya Njo Tiam Kiem merasakan segarnya buah kawis yang banyak terdapat di sekitar tempat tinggalnya di Jalan Diponegoro Rembang. Tiba-tiba terpikir olehnya untuk meracik buah yang berasa sepet, manis, segar dan berbau agak menyengat itu untuk dijadikan bahan dasar pembuatan sirup yang bisa disimpan dalam jangka waktu lama. Pemikirannya saat itu, buah tersebut bisa terus segar meski disimpan berhari-hari.
Setelah beberapa kali berusaha, akhirnya dia berhasil menemukan cara membuat buah kawis menjadi esens bahan dasar pembuatan limun. Hanya saja, setelah dicampur dengan air tawar yang diperoleh di sekitar rumahnya, rasanya tidak seperti yang diharapkan. Baru setelah mencoba air dari Sendang Hajar di Desa Bulu, dia mendapatkan rasa seperti yang diinginkan. Selain permasalahan air, dia juga menggunakan bahan gula murni impor dan tidak memakai bahan kimia pabrik untuk menjaga rasa buah kawis saat diolah menjadi sirup.
Limun Kawis
Ny Tsuan Hwa, salah satu kemenakan Ny M E Heriyati yang kini turut mengelola perusahan limun dan sirup Kawista Dua Burung menceritakan hingga saat ini bahan-bahan racikan tersebut tetap dipertahankan. '' Meskipun kini telah banyak beredar pemanis buatan yang harganya lebih murah, namun kami tetap memakai gula pasir murni impor. Jika diganti dengan pemanis buatan, rasanya akan menjadi lain dan tidak enak saat diminum,'' katanya.
Dia menambahkan selain dibuat sirup, Ny M E Heriyati juga membuat limun dalam botol dengan rasa kawis. Limu n tersebut jika diminum rasanya tak kalah dari beberapa minuman soda bermerek luar negeri. '' Bahkan beberapa orang lebih senang minum limun kawis dibandingkan minuman soda bermerek luar negeri karena rasanya lebih enak,'' terangnya.
Meskipun perusahan Ny Herawati telah berusia 50 tahun lebih dan nama sirup Kawista Dewa Burung sudah terkenal luas, tidak membuat perusahan itu melebarkan usahanya ke daerah lain. Hingga saat ini, sirup khas ini hanya bisa didapatkan di Toko Djago Jalan Diponegoro Rembang dan Jalan Kayumas Jakarta. Untuk harga sirup dipatok harga Rp 13.000/botol. Sementara untuk satu limun berukuran botol soda kecil dipatok harga Rp 5000/botol. Tsuan Hwa mengaku tidak akan menjual sirup dan limun buah Kawista cap Dewa Burung di toko-toko lain.
4.Sayur Mrica (Kelo Mrico Ndas Manyung)
            Sayur ini sangat pedas cocok untuk anda yang sedang flu atau saat cuaca sangat dingin,maklum orang Rembang terbiasa dengan cuaca yang panas jadi kalau dingin banyak yang membuat alternative lain selain memakai jaket yaitu dengan membuat sayur mrico ndas manyung,sayur ini terbuat dari mrica di campur potongan cabai rawit,bawang merah,bawang putih,kunyit dan daun salam.Direbus bersama dengan kepala ikan manyung yaitu sejenis ikan laut yang menyerupai lele namun ukurannya lebih bersar selama kurang lebih 1 jam hingga mendidih agar daging ikannya lebih empuk.Rasanya yang sangat pedas dan super gurih akan membuat anda ketagihan jika memakan masakan ini.selain ikan manyung ikan lain yang bisa di masak yaitu ikan “anyaran” ikan yang baru di ambil dari laut yang masih segar.Dan masakan ini hanya ada di rembang utamannya sepanjang pesisir Rembang.
D. Tanaman Khas Rembang
Pohon Kawis/Kawista
Kawis alias kawista (Limonia acidissima), nama buah unik yang mungkin jarang diketahui oleh orang. Buah yang khas dengan aroma yang menusuk hidung dan warna daging buah yang coklat kehitaman. Bahkan apabila kita mendapatkan kawis yang benar-benar telah matang, warna daging buahnya akan hitam kelam.
Menurut Wikipedia, kawis termasuk pohon yang tahan banting. Buah Kawis mampu hidup di daerah dengan curah hujan rendah alias lahan kering, selain itu mampu bertahan pada tanah dengan salinitas yang tinggi. kawis juga dapat dimanfaatkan sebagai batang bawah dalam okulasi tanaman jeruk. Okulasi ini menghasilkan Kajer alias kawis jeruk.
Kawista (Limonia acidissima syn. Feronia limonia) adalah kerabat dekat maja dan masih termasuk dalam suku jeruk-jerukan (Rutaceae). Tumbuhan yang dimanfaatkan buahnya ini sudah jarang dijumpai meskipun sekarang beberapa daerah mulai mengembangkannya. Kawista relatif tahan kondisi buruk (kering atau tanah salin) dan tahan penyakit. Asalnya adalah dari India selatan hingga ke Asia Tenggara dan Jawa.
Kawista dapat digunakan sebagai batang bawah bagi jeruk, namun mempengaruhi rasa buah jeruk yang dihasilkan. Buah jeruk semacam ini dikenal sebagai “kajer” (dari “kawista” dan “jeruk”) dan bisa ditemui di Galis, Madura. Di Kabupaten Rembang dikembangkan sirup kawista. Orang Jawa menyebutnya kawis.
Menurut Sentra Informasi Iptek, Setiap 100 g bagian daging buah yang dapat dimakan mengandung: 74 g air, 8 g protein, 1,5 g lemak, 7,5 g karbohidrat, dan 5 g abu. Dalam 100 g bagian biji yang dapat dimakan terkandung: 4 g air, 26 g protein, 27 g lemak, 3 5 g karbohidrat, dan 5 g abu. Daging buah yang kering mengandung 15% asam sitrat dan sejumlah kecil asam-asam kalium, kalsium, dan besi. Kayu kawista berwarna putih kekuningan, keras, agak berat, dan berserat kasar, tetapi urat kayunya rapat dan dapat dipolis sampai berkilap.
Masyarakat Rembang tentu mengenal buah karena banyak terdapat pohon kawis di pekarangan rumah-rumah. Pohonnya tumbuh tinggi menjulang, bahkan kelewat tinggi. Pohon ini kebanyakan tumbuh liar, tetapi ada juga yang membudidayakan kawis. Sehingga sekarang sudah mulai dikenal di berbagai daerah di luar rembang.
Buah ini bisa diklaim sebagai buah asli Rembang, Jawa Tengah. Entah benar atau tidak, namun sangat wajar apabila buah ini bisa menyebar hingga ke daerah sekitarnya di pesisir utara Jawa seperti Pati dan Tuban.
Bagaimana cara memanen kawis? Sabar kuncinya. Kenapa? Buah yang siap konsumsi adalah buah yang telah benar-benar masak. Tanda buah yang telah masak sempurna adalah telah jatuh dari pohonnya. Ingat, syarat “telah jatuh dari pohonnya” adalah dengan cara alami. Jatuh dari ketinggian tidak berarti akan menurunkan kualitas buah ini. Kulit buah yang sangat keras membuat kawis tetap aman mendarat ke permukaan bumi.
Bagaimana cara menikmatinya? Gampang saja!
Ambil buah kawis, pegang erat, sempatkan menghirup aroma khas buah ini dengan mendekatkan pangkal buah ke hidung anda. Hirup dalam-dalam… Ahhh…
Setelah puas dengan aroma terapi kawis, segera cari permukaan lantai yang keras dan bersih. Dengan gerakan lambat namun bertenaga, hantamkan buah kawis ke lantai hingga terbelah menjadi dua bagian. Prakkk…. Hmmmm… Coklat kehitaman bahkan mungkin hitam legam daging buah kawis akan membelalakkan mata. Daging buah bercampur dengan sedikit biji dan serat daging siap untuk kita santap.
Untuk menambah sensasi rasa, biasanya saya menambahkan gula pasir beberapa sendok. Ya, tinggal kita aduk rata daging buah tersebut dengan gula pasir. Gak usah memakai piring! Lebih alami apabila makan langsung dari batok kulit buah kawis ituh.
Bagaimana dengan bijinya? Tekstur biji yang tidak keras, memungkinkan kita untuk mengunyahnya bersama dengan daging buah dan juga serat yang ada. Tidak ada rasa pahit sama sekali.
Habitat dan Penyebaran Kawista. Pohon Kawista tumbuh di daerah tropis dengan kondisi tanah yang kering. Tumbuhan penghasil buah ini merupakan tanaman dataran rendah yang mampu tumbuh hingga pada ketinggian 400 mdpl.
Kawista tumbuh alami di daerah Sri Lanka, India, Myanmar, dan Indocina, kemudian menyebar hingga ke Malaysia dan Indonesia. Pohon Kawista juga sudah diintrodusir ke Amerika. Di Indonesia, Kawista tumbuh alami di daerah pesisir utara pulau Jawa.
Pemanfaatan Kawista. Di Indonesia pohon Kawista belum banyak dibudidayakan dan sekedar tumbuh alami secara liar di pekarangan dan kebun. Padahal dibeberapa negara seperti Sri Lanka, Kawista telah dibudidayakan bahkan buah Kawista yang diolah menjadi menjadi krim kawista menjadi salah satu komoditas eksport.
Buah Kawista dapat dimakan langsung. Atau diolah menjadi berbagai komoditas seperti sirup dan dodol. Selain itu Buah kawista yang matang dipercaya mampu menjadi obat menurunkan panas dan sakit perut, serta dimanfaatkan sebagai tonikum.
Kulit batang pohon Kawista dipercaya juga dapat menjadi campuran jamu untuk mengatasi haid yang berlebihan, gangguan hati, mengatasi mual-mual, bahkan untuk mengobati luka akibat gigitan serangga.
Sayangnya tidak banyak yang mengenal dan membudidayakan pohon Kawista. Pohon dan buah Kawista ini memang kalah populer dengan aneka buah lainnya, tetapi bukankah ini juga termasuk salah satu kekayaan yang menunggu eksplorasi kita. Sri Langka saja mampu mengekspor buah ini kenapa kita tidak?
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Sapindales; Famili: Rutaceae; Genus: Limonia; Spesies: Limonia acidissima; Nama binomial Limonia acidissima





Daftar Pustaka
Kompas,Minggu 25 Mei 2006
Suara Merdeka,Kamis 7 Juli 2005
Wikipedia.com/buah kawis
Arsip Pribadi S. A Atmadja